53. RF amplifier provide initial RF Amplifier and Mixer in a receiver but also add Related Tune Circuits.
54. A low-noise transistor preferred at microwave frequencies is the FET made of Metal Semiconductor.
55. Most of the gain and selectivity in a superhet is obtained in the IF amplifier.
56. The selectivity in an IF amplifier is usually produced by using Ferrite-core transformers between stages.
57. The bandwidth of a double-tuned transformer depends upon the degree of coupling between primary and secondary windings.
58. In a double-tuned circuit, minimum bandwidth is obtained with under coupling, maximum bandwidth with critical coupling and peak output with over or optimum coupling.
59. An IF amplifier that clips the positive and negative peaks of a signal is called a(n) limiter.
60. Clipping occurs in an amplifier because the transistor is driven by a high-level signal into Single transistor stage.
61. The gain of a bipolar class A amplifier can be varied by changing the positive peaks and negative peaks.
62. The overall RF-IF gain of a receiver is approximately 89 dB.
63. Using the amplitude of the incoming signal to control the gain of the receiver is known as AGC Voltage gen.
64. AGC circuits vary the gain of the IF amplifier.
65. The DC AGC Voltage is derived from a(n) AGC circuit connected to the demodulator or IF output.
66. Reverse AGC is where a signal amplitude increase causes a(n) AGC Voltage in the IF amplifier collector current.
67. Forward AGC uses a signal amplitude increase to positive voltage the collector current,which decreases the IF amplifier gain.
68. The AGC of a differential amplifier is produced by controlling the current produced by the Constant Current Source transistor.
69. In dual-gate MOSFET IF amplifier, the dc AGC Voltage is applied to the R1 to gate 2.
70. Another name for AGC in an AM receiver is Dual Gate MOSFET.
71. In an AM receiver, the AGC voltage is derived from the IF Signal.
72. Large input signals cause the gain of a receiver to be reduced by the AGC.
73. An AFC circuit corrects for frequency drift in the feedback control circuit.
74. The AFC DC control voltage is derived from the output of the demodulator circuit in a receiver.
75. A(n) Demodulator is used in an AFC circuit to vary the LO frequency.
76. A circuit that blocks the audio until a signal is received is called a(n) squelch circuit.
77. Two types of signals used to operate the squelch circuit are audiotone and audiosignal.
78. In a CTCS system, a low-frequency frequency tone is used to trigger the squelch circuit.
79. A BFO is required to receive CWCode and SSB Signals.
Rabu, 05 April 2017
TUGAS SELFTEST ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI HALAMAN 107-108
12. Linear power amplifiers are used to raise the power level of Low Level AM and SSB Signals.
13. A Mosfet power amplifier is used to increase the power level of an FM signal.
14. Linear power amplifier operate class A,B, and AB
15. A class A transistor power amplifier has an efficiency of 50 percent. The output power is 27W. The power dissipated in the transistor is 13.5 W
16. Class A amplifier conduct for 360 degrees of a sine wave input.
17. True or false. With no input, a class B amplifier does not conduct. FALSE
18. Class B RF power amplifiers normally used a(n) Broadband configuration.
19. A class C amplifier conducts for approximatly 90 degrees to 150 degrees of the input signal.
20. In a class C amplifier, collector current flows in the form of positive pulses.
21. In a class C amplifier, a complete sinusoidal output signal is produced by a(n) Timed Circuit.
22. The efficiency of a class C amplifier is in the range of 60 to 85 percent.
23. The tuned circuit in the collector of a class C amplifier acts as a filter to eliminate Induced Voltage.
24. A class C amplifier whose output tuned circuit resonates at some integer multiple of the input frequency is called a(n) Flywheel effect.
25. Frequency multipliers with factors of 2, 3, 4, and 5 are cascaded. The input is 1.5MHz. The output is 120 MHz.
26. A class C amplifier has DC supply voltage of 28 V and an average collector current of 1.8A. The power input is 50.4 W
13. A Mosfet power amplifier is used to increase the power level of an FM signal.
14. Linear power amplifier operate class A,B, and AB
15. A class A transistor power amplifier has an efficiency of 50 percent. The output power is 27W. The power dissipated in the transistor is 13.5 W
16. Class A amplifier conduct for 360 degrees of a sine wave input.
17. True or false. With no input, a class B amplifier does not conduct. FALSE
18. Class B RF power amplifiers normally used a(n) Broadband configuration.
19. A class C amplifier conducts for approximatly 90 degrees to 150 degrees of the input signal.
20. In a class C amplifier, collector current flows in the form of positive pulses.
21. In a class C amplifier, a complete sinusoidal output signal is produced by a(n) Timed Circuit.
22. The efficiency of a class C amplifier is in the range of 60 to 85 percent.
23. The tuned circuit in the collector of a class C amplifier acts as a filter to eliminate Induced Voltage.
24. A class C amplifier whose output tuned circuit resonates at some integer multiple of the input frequency is called a(n) Flywheel effect.
25. Frequency multipliers with factors of 2, 3, 4, and 5 are cascaded. The input is 1.5MHz. The output is 120 MHz.
26. A class C amplifier has DC supply voltage of 28 V and an average collector current of 1.8A. The power input is 50.4 W
Selasa, 04 April 2017
RANGKUMAN TUGAS ELEKTRONIKA - TELEKOMUNIKASI (AMPLIFIER)
5.4 AMPLIFIER COMMON-EMITTER (CE)
Konfigurasi penguat tegangan yang paling banyak digunakan
untuk menguatkan sinyal kecil dan frekuensi rendah adalah penguat emitor
ditanahkan atau emitor bersama (CE). Pada penguat emitor bersama sinyal masukan
dikenakan pada basis-emitor dan sinyal keluaran dikenakan pada kolektor-emitor.
Amplifier common-emitter dapat kita sebut juga dengan
sebutan penguat emitor bersama. Dalam melakukan pengecekan pada
rangkaian penguat emitor bersama, dapat disimpulan bahwa untuk meng-crosscheck sudah
berfungsi apa belum yaitu dengan mengecek pada bagian transistornya. Dapat kita
lihat pada Gambar 5.4.1(a) merupakan rangkaian Amplifier CE beserta input dan
outputnya. Pada gambar tersebut dapat kita ketahui bahwa C₃
dan C₄
merupakan kapasitor pemblokir DC.
Pada lain
gambar yaitu pada Gambar 5.4.1(b) dapat kita lihat pula gambar rangkaian
ekivalen atau rangkaian pengganti pada Amplifier CE. Pada Gambar 5.4.1(b) dapat
kita lihat bahwa keadaan resistansi output transistor dan resistansi bebannya
berada dalam keadaan paralel. Jika indukor pada output mempunyai resistansi
seri r₂
dan induktansi L₂,maka rangkaian dapat disederhanakan lagi seperti pada
yang ditunjukkan pada gambar 5.4.1.(c). Pada komponen outputnya dapat
dikelompokkan dalam satu bentuk admintansi (Y) sebagai :
Pada gambar 5.4.1(c) dapat kita analisa bahwa pada
admintansi Y₁
mewakilkan lambing admintansi ₨,rb’e,dan Cb’e yang terletak paralel dengan
rangkaian input. Sedangkan Y₂ berposisi sebagai admintansi output sebagaimana
telah dijelaskan pada rumus diatas. Umpan balik / feedback admintansinya adalah
Yɟ = jωCcb’. Persamaan arus untuk simpul outputnya adalah
Dapat pula kita tentukan Gain Voltagenya (Av) dengan rumus :
5.6 AMPLIFIER COMMON-BASE (CB)
Pada gambar 5.6.1 dapat kita lihat rangkaian ekivalen untuk
transistor common-base (CB) beserta versi yang disederhanakannya. Dalam gambar
dapat kita lihat juga Ccb’ tampak paralel dengan kapasitansi output Cc dan
karena itu tidak menyumbang kepada kapasitansi input. Disimpulkan pula bahwa
resistansi input untuk rangkaian Common Base (CB) lebih kecil daripada untuk
rangkaian Common Emitter (CE). Input daripada common base
sendiri terletak pada emitter and base, sedangkan
outputnya berada
diantara collector and base. Berdasarkan gambar rangkaian,dapat kita
ketahui pula Gain Arus hubung pendek
(Aisc) pada amplifier Common Base (CB) dapat dirumuskan :
Pada gambar 5.6.2 dapat kita lihat sebuah rangkaian Common
Base (CB) dengan beban kolektor tertala,rangkaian ekivalennya,dan rangkaian
yang sudah disederhanakan. Berdasarkan gambar 5.6.2,dapat kita tarik kesimpulan
untuk rumus Penguat Tegangan (Av) pada suatu rangkaian amplifier Common Base
(CB) yang mengacu pada terminal E-B :
5.7 PENGUATAN DAYA YANG TERSEDIA (Gav)
Seperti yang kita ketahui bahwa pada penguatan daya tinggi
diperlukan amplifier cascade (formula
friis) untuk mempertahankan faktor noise. Pada penguatan daya yang tersedia
sendiri untuk kedua rangkaian (Common Base dan Common Emitter),dapat kita
simpulkan dengan rumus sebagai berikut :
Penguatan
daya pada Common Emitter dan Common Base tentunya berbeda antara satu dengan
yang lainnya. Perhitungan rumus perbandingan ratio penguatan daya antara Common
Emitter dengan Common Base dijelaskan pada rumus dibawah ini
Dari
keterangan diatas kita dapat mengetahui bahwa penguatan daya tersedia pada
Common Emitter (CE) lebih besar dibandingkan dengan Common Base (CB). Oleh
sebab itulah maka amplifier CE lebih dipilih dalam bidang tahap masukan pesawat
penerima low-noise.
5.8 AMPLIFIER
CASCODE
Amplifier cascode adalah suatu kombinasi
amplifier Common Emitter dan Common Base yang mempunyai penguatan daya yang tinggi dan stabil. Kata
dari Amplifier Cascode ini merupakan
pusaka dari teknologi tabung vakum yang mana rangkaian hasilnya menggunakan
tahapan cascode common cathode dan common grid. Pada gambar 5.8.1 dibawah ini
dapat kita lihat bahwa komponen biasnya
dibuang untuk fungsi
penyederhanaan
Pada
gambar diatas dapat kita lihat Amplifier Cascode mempunyai 2 transistor
pada rangkaiannya. Kedua transistor itu membawa arus kolektor (Ic) yang sama
karena itu akan mempunnyai transkonduktans yang sama. Pada Amplifier
Cascode,input resistans tahap Common Base (CB)
adalah rbe. Maka keseluruhan Amplifier Cascode ini memiiki ciri kinerja
yang sama seperti amplifier Common Emitter (CE) tetapi dengan kestabilan dengan
ketidak adaannya perubahan fasa 180o.
5.9 RANGKAIAN EKIVALEN
HIBRIDA-π UNTUK FET
FET merupakan singkatan dari Field
Effect Transistor. Dalam banyak
hal,field effect transistor memiliki kelebihan yang lebih sederhana
dibandingkan dengan bipolar junction transistor (BJT) dikarenakan sangat
tingginya impedansi input yang diberikan oleh gerbang kontrol. Pada
FET,eksternal terminal diberi label G (Gate/Gerbang), S (Source/Sumber), dan D
(Drain/Pembuangan)
Dari gambar 5.9.2(a) diatas menunjukkan
amplifier CS sederhana. Dimana pengertian kata sederhana ini ialah
kesederhanaan yang komponen bias dibuang.
5.10 RANGKAIAN PENCAMPUR(MIXER)
Mixer digunakan untuk mengubah sinyal dari
1 frekuensi ke frekuensi lain. Ada beberapa alasan mengapa perubahan frekuensi
diperlukan. Selain itu pada kenyataannya beberapa proses mixing digunakan dalam
penerapan khusus yang tampil dengan nama yang berbeda. Beberapa nama tersebut
ialah modulasi, demodulasi, dan multiplikasi frekuensi. Istilah mixer sendiri
pada umumnya dicadang kepada rangkaian yang mengubah sinyal frekuensi radio
pada kesuatu nilai intermediate frekuensi(IF).
Contoh beberapa mixer adalah yang tersedia
dalam bentuk unit packet, dengan masukan berlabel RF(Radio Frekuensi) dan
output berlabel IF(Intermediate Frekuensi) dalam aplikasi penerima tentu
rangkaian Oscilator merupakan suatu bagian yang menyatu dari rangkaian Mixer.
Dibawah ini akan dijelsaskan rumus Oscilator beserta nilai RF-nya
Pada rumus diatas suku yang mengandung
frekuensi
adalah yang biasa
dipilih dengan filter, sebagai sinyal IF(Intermediate Frekuensi).
6.2 LINEAR AMPLIFIER, AMPLIFIER KELAS C,
DAN FREKUENSI MULTIPLE
Pada dasarnya ada 2 tipe power
amplifier yang dipakai pada transmitter,yaitu linear dan kelas C. Pada
amplifier linear menghasilkan sinyal output yang sama yaitu replica dari input
tetapi hanya diperbesar. Oleh karena itu pada linear amplifier memproduksi ulang
input tetapi dengan power level yang lebih tinggi. Semua audio amplifier yang
kita ketahui adalah linear. Linear amplifier sendiri terbagi menjadi 3 kelas
yaitu kelas A,AB dan B. Tiap kelas mengindikasikan tentang bagaimana cara
pembiasannya.
Pada kelas A,amplifier dibiaskan
sehingga terhubung secara kelanjutan dan bekerja pada daerah aktif. Seperti
pada yang telah dijelaskan diatas bahwa output pada linear amplifier adalah
hasil dari rekonstruksi dari inputnya sendiri.
Pada amplifier kelas A,mengalirkan input gelombang sinus sebesar 3600
Berbeda dengan kelas A,
amplifier kelas B dibiaskan pada daerah cut-off sehingga tidak ada tegangan
collector (C) yang mengalir dengan tanpa adanya input. Berbeda pula pada
pengaliran inputnya,pada amplifier kelas B sendiri mengalirkan input 1800
dengan bentuk sinyal input berupa gelombang sinus. Yang mana pada pengertian
ini hanya setengah gelombang sinus yang hanya diamplifikasikan.
Berbeda pula dengan kelas A
ataupun dengan kelas B,Kelas AB dibiaskan didepan daerah cut-off dengan sedikit
tegangan Collector (C). Kelas AB sendiri akan mengalirkan lebih dari 1800
tetapi kurang dari 3600 dari sebuah inputnya.
Diketahui bahwa amplifier kelas
B dan C lebih efisien. Mengapa begitu ? karena tegangan yang mengalir hanya untuk
bagian daripada sinyal input. Jika kedua amplifier tersebut
dibandingkan,Amplifier kelas C-lah yang yang menjadi amplifier yang paling
efisien.
Pada gambar 6.6 dibawah ini
dapat kita lihat contoh dari amplifier kelas A. Ketika kita menganalisis gambar
tersebut,kita akan mengetahui bahwa sinyal pembawa osilator kapasitif yang
digabungkan ke input. Pembiasan yang terjadi yaitu dari R1,R2, dan R3. Komponen
kolektor yang ada pada gambar juga diubah menjadi rangkaian LC (Rangkaian
resonansi) yang dipasangkan bersama dengan indukif. Pada rangkaian dibawah ini
biasanya beroperasi pada daya yang kurang dari 1W. Perlu anda ingat bahwa untuk
amplifier kelas A hanya dapat mencapai efisiensi maksimum sebesar 50%. Yang
mana 50% dari power DC diubah menjadi Radio Frekuensi (RF).
Sekarang
mari kita bahas rangkaian operasi kelas B. Pada operasi rangkaian kelas B Q1
dan Q2 diharuskan untuk dibiaskan pada bagian cut-off. Ketika setengah dari
bagian cycle positif RF telah terjadi,bagian dari Q1 akan berubah menjadi
positif sedangkan untuk Q2 akan negatif. Q2 akan menjadi cut-off sedangkan Q1
akan mengalir dan mengamplifikasikan setengah dari cycle positif. Tegangan
collector mengalir pada setengah bagian T2 yang mana mengecilkan
output tegangan sekundernya.
Pada
gambar 6.8 merupakan gambar sirkuit broadband. Sirkuit ini akan
mengamplifikasikan sinyal lebih dari jarak frekuensi broadnya. Jenis dari jarak
yang memungkinkan adlaah 2 sampai 30 MHz. Power AM yang rendah atau Sinyal SSB dapat
dibuat pada frekuensi yang diinginkan, kemudian diaplikasikan ke power
amplifiernya untuk dikirim ke antenna.
Berbeda dengan gambar 6.8,
dibawah ini merupakan rangkaian dari power amplifier push-pull RF yang berbeda.
Pada rangkaian dibawah ini,menggunakan 2 power MOSFET dan dapat menghasilakn
output lebih dari 1kW pada jarak frekuensi lebih dari 90MHz dengan penguatan
sebesar 12 dB. Trafo yang digunakan pada input dan output adalah trafo Toroidal
yang berfungsi untuk impedansi matching. Kunci dasar dari circuit transmitter
AM dan FM adalah pada kelas C amplifier. Amplifier C pada AM dan FM ini sendiri
digunakan pada power amplifier dalam bentuk driver, pengganda frekuensi serta
amplifier akhir.
Gambar 6.10
diatas menunjukkan penggunaan internal emmiter-base (EB) untuk pembiasan kelas
C. Dari gambar 6.10(a) pembiasan 1 arah oleh amplifier kelas C. Kaki transistor
base terhubung ke ground melewati resistor. Transistor akan bekerja pada
setengah positif cycle dari gelombang input dan akan cut-off pada setengah
cycle negatif. Sedangkan pada gambar 6.10(b) dijelaskan grafik hasil untuk tegangan kolektor yang melewati transistor
pada bagian positif untuk kurang dari 1800.
Metode
pembiasan lain pada amplifier kelas C dapat kita lihat pada gambar 6.11. Dapat
kita lihat pada gambar 6.11(c) disebut sebagai metode self-bias yang diturunkan
langsung dari 6.11(a). Ketika tegangan mengalir pada transistor,tegangan ini
dikembangkan oleh R1. Kapasitor C1 diisi dan memegang tegangan konstan. Hal ini
akan dapat membuat emitter lebih positif dibandingan base.
7.4 TIPE SIRKUIT PENERIMA
Pada bab sebelumna kita sudah membahas mixer dan
demodulator,jadi kita tidak akan membahas hal tersebut pada bab ini. Melainkan
pada bab ini kita akan fokus membahas pada RF dan IF amplifier,AGC dan AFC
sirkuit, dan sirkuit spesial lainnya yang dapat ditemukan pada receiver /
penerima.
Dalam kebanyakan suatu komunikasi penerima,RF
amplifier tidaklah lagi digunakan. Hal ini dapat dibuktikan pada receiver yang
didesign untuk frekuensi dibawah 30MHz. Dalam hal ini penguat tegangan kurang
berpengaruh dan jika berpengaruh akan menambahkan noise.
Receiver yang digunakan pada kebanyakan frekuensi
berada pada kisaran 100Mhz yang berdasarkan tipe RF amplifier. Tujuan utama
dari amplifier ini adalah memperkuat sinyal amplitudo yang lemah untuk mixing.
Pada kebanyakan receiver,1 tahap RF biasanya menghasilkan penguat tengangan
yang berkisar antara 10-30dB. Hal ini juga dapat di perkuat kembali dengan 1
transistor. Bipolar transistor digunakan pada frekuensi rendah, ketika FET
sendiri lebih mengarah pada frekuensi VHF,UHF dan microwave. Pada dasarnya, FET
mempunyai noise yang lebih rendah dibandingkan bipolar transistor serta
memberikan performa yang lebih baik.
RF amplifier sendiri biasannya berbentuk sirkuit kelas A.
Dapat kita lihat pada gambar diatas bahwa pada 7.11(a) menunjukkan contoh
rangkaian dari sirkuit bipolar,sedangkan pada gambar 7.11(b) merupakan gambar
rangkaian dari FET sirkuit. Perlu anda catat bahwa pada sirkuit bipolar tidak
mempunyai input tuner. Antenna terhubung langsung kepada base transistor. Hal
lain yang perlu anda perhatikan ialah collector ditala (tuned) dengan rangkaian
resonansi paralel yang kita tau terdiri atas komponen kapasitor dan induktor
untuk input mixer. Sirkuit FET sangatlah efektif dikarenakan input impedansi
yang tinggi meminimalisir loading pada sirkut yang ditala (tuned).
Seperti amplifier RF, IF amplifier kapak disetel kelas A
amplifier mampu memberikan keuntungan dalam 10 sampai 30 jangkauan. Biasanya
dua atau lebih IF amplifier digunakan untuk memberikan keuntungan penerima
secara keseluruhan memadai.
Dalam merancang sebuah penguat IF, perawatan harus diambil
sehingga selektivitas tidak terlalu tajam. Jika JIKA bandwidth terlalu sempit,
akan menyebabkan pemotongan sideband. ini berarti bahwa frekuensi modulasi yang
lebih tinggi akan sangat berkurang dalam amplitudo, sehingga mendistorsi sinyal
yang diterima.
Hal ini kadang-kadang diperlukan ketika menerima sinyal band
yang sangat luas untuk memperlebar bandwidth dari amplifier IF. Ada beberapa
cara untuk melakukan hal ini. Pertama, nilai tinggi resistensi dapat terhubung
di sirkuit paralel disetel sehingga menurunkan Q mereka ke nilai yang akan
menghasilkan band-tepat Teknik lain adalah dengan menggunakan overcoupled
sirkuit disetel. Kopling antara IF amplifier stagbs di beberapa penerima
dilakukan dengan dua transformator inti ferit disetel seperti ditunjukkan pada
Gambar. 7-13.
Dalam banyak penerima komunikasi di mana selektivitas unggul
diperlukan, sangat peka filter kristal yang digunakan untuk mendapatkan
selektivitas yang diinginkan. filter kristal ini biasanya dari berbagai kisi
dibahas sebelumnya dalam bab tentang SSB. Ccramic dan filter mekanik juga
digunakan. filter tersebut biasanya dikemas sebagai sebuah unit dan terhubung
langsung pada output dari mixer tetapi sebelum pertama IF tahap.
limiter bukanlah sirkuit khusus. Biasanya tidak lebih dari
kelas konvensional A JIKA amplifier.
Dengan mengemudi saturasi transistorbetween dan cutoff,
puncak positif dan negatif dari sinyal input secara efektif pipih atau
terpotong. Setiap variasi amplitudo yang essentidlly- dihapus. Sinyal output
pada kolektor, oleh karena itu, adalah gelombang persegi.
pemilihan gain keseluruhan penerima komunikasi biasanya
didasarkan pada
sinyal terlemah tg diterima. Dalam kebanyakan penerima
komunikasi modern keuntungan individu adalah sebagai berikut: gain tegangan
antara antena dan demodulator biasanya lebih dari 100 dB; penguat RF biasanya
memiliki keuntungan dalam kisaran 5 sampai 15-dB; keuntungan mixer adalah dalam
6 sampai 10 rentang dB; amplifier IF memiliki keuntungan tahap individu 20
sampai 30 dB; detektor dapat memperkenalkan kerugian khas -2 ke -5 dB jika dari
jenis dioda; dan gain dari tahap penguat audio dalam 20 sampai 40-dB rentang.
Sebagai contoh, asumsikan keuntungan rangkaian berikut:
Penggunaan AGC menyebabkan penerima memiliki berbagai dyndmic
sangat luas. rentang dinamis mengacu pada ukuran kemampuan penerima untuk
menerima kedua sinyal yang sangat kuat dan sangat lemah tanpa inhoducing
distorsi dan rasio sinyal terbesar yang dapat ditangani dengan terendah,
dinyatakan dalam desibel
Rangkaian AGC mengambil signaleither diterima di outptt dari
sebuah penguat IF atau output dari demodulator dan meluruskan menjadi arus searah.
Gambar 7-17
menunjukkan dua cara khas menerapkan AGC ke amplifier IF. Pada Gambar. 7-17
(a), emitor umum IF amplifier bias berasal dari pembagi tegangan terdiri dari
R1 dan R2 dan emitor resistor R3. Resistor Ra diterapkan ke basis menerima
tegangan dc negatif dari rangkaian AGC.
Rangkaian
pada Gambar. 7-l7 (b) adalah serupa, tetapi bias untuk panggung berasal dari
emitor resistor R, dan sirkuit AGC itu sendiri.
Rabu, 15 Maret 2017
TUGAS ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI
SOAL :
Carilah informasi tentang apa itu induktansi
bersama,induktansi diri, rangkaian tuner/penala,macam2 trafo(frek.
Rendah,menengah,tinggi)
JAWABAN :
1. INDUKTANSI DIRI (GGL Induksi Pada Kumparan)
Apabila arus berubah
melewati suatu kumparan atau solenoida, terjadi perubahan fluks magnetik di
dalam kumparan yang akan menginduksi ggl pada arah yang berlawanan. Ggl
terinduksi ini berlawanan arah dengan
perubahan fluks. Jika arus yang melalui kumparan meningkat, kenaikan fluks
magnet akan menginduksi ggl dengan arah arus yang berlawanan dan cenderung
untuk memperlambat kenaikan arus tersebut. Dapat disimpulkan bahwa ggl induksi
ε sebanding dengan laju perubahan arus yang dirumuskan
dengan I merupakan arus
sesaat, dan tanda negatif menunjukkan bahwa ggl yang dihasilkan berlawanan
dengan perubahan arus. Konstanta kesebandingan L disebut induktansi diri atau induktansi kumparan, yang
memiliki satuan henry (H), yang
didefinisikan sebagai satuan untuk menyatakan besarnya induktansi suatu
rangkaian tertutup yang menghasilkan ggl satu volt bila arus listrik di dalam
rangkaian berubah secara seragam dengan laju satu ampere per detik.
Induktansi diri secara umum
sendiri dapat terbagi 2,yaitu induktansi pada Solenoida dan Toroida.
a. SOLENOIDA
Solenoida merupakan kumparan kawat yang
terlilit pada suatu pembentuk silinder. Pada kumparan ini panjang pembentuk
melebihi garis tengahnya. Bila arus dilewatkan melalui kumparan, suatu medan
magnetik akan dihasilkan di dalam kumparan sejajar dengan sumbu.
Gambar 1.a. Solenoida
b.
TOROIDA
Sementara itu, toroida adalah solenoida
yang dilengkungkan sehingga sumbunya menjadi berbentuk lingkaran. Induktor
adalah sebuah kumparan yang memiliki induktansi diri L yang signifikan.
Gambar 1.b. Toroida
Jadi dapat
disimpulkan bahwa antara Solenoida dan Toroida merupakan sama. Perbedaannya
hanyalah Toroida adalah bentukan dari Solenoida yang dilengkungkan sehingga
bentuk fisiknya menyerupai lingkaran.
Induktansi diri L sebuah solenoida dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan 4 pada induksi
elektromagnetik. Medan magnet di dalam solenoida adalah:
Dengan:
L = induktansi diri solenoida atau toroida ( H)
μ0 =
permeabilitas udara (4 π × 10-7 Wb/Am)
N = jumlah lilitan
l =
panjang solenoida atau toroida (m)
A = luas penampang (m2)
2.
INDUKTANSI BERSAMA
Gambar 2.a. Dua kumparan yang saling
berdekatan
Apabila dua kumparan saling berdekatan, seperti pada gambar diatas, maka
sebuah arus tetap I di dalam sebuah kumparan akan menghasilkan sebuah fluks
magnetik Φ yang mengitari kumparan lainnya, dan menginduksi ggl pada kumparan
tersebut. Menurut Hukum Faraday, besar ggl ε2 yang diinduksi ke kumparan tersebut
berbanding lurus dengan laju perubahan fluks yang melewatinya. Karena fluks
berbanding lurus dengan kumparan 1, maka ε2 harus sebanding dengan laju perubahan
arus pada kumparan 1, dapat dinyatakan :
Dengan M adalah konstanta pembanding yang disebut induktansi bersama.
Nilai M tergantung pada ukuran kumparan, jumlah lilitan, dan jarak pisahnya. Induktansi bersama mempunyai satuan henry (H), untuk
mengenang fisikawan asal AS, Joseph Henry (1797 – 1878). Pada situasi yang
berbeda, jika perubahan arus kumparan 2 menginduksi ggl pada kumparan 1, maka
konstanta pembanding akan bernilai sama, yaitu :
Induktansi bersama diterapkan dalam transformator, dengan memaksimalkan hubungan
antara kumparan primer dan sekunder sehingga hampir seluruh garis fluks
melewati kedua kumparan tersebut. Alat pemacu jantung, untuk menjaga kestabilan
aliran darah pada jantung pasien merupakan salah satu contoh alat yang
menerapkan induktansi
bersama.
3.
RANGKAIAN TUNER / PENALA
Rangkaian Tuner FM adalah rangkaian
elektronika berupa receiver / penerima radio yang beroperasi di jalur FM.
Mendengarkan siaran radio FM, baik mendengarkan sajian lagu atau berita,
memiliki nuansa tersendiri. Tidak kalah asyiknya dibanding melihat tayangan di
televisi. Mendengarkan siaran radio FM bisa dijadikan sebagai sarana hiburan
dan mendapatkan informasi.
Tuner, atau Penala berfungsi untuk
memilih kanal / stasiun dengan cara merubah gelombang radio yang diterima
antena menjadi signal IF (Intermediate Frequency). Didalam Tuner terdapat
3 rangkaian utama, yaitu :
(1)
Penguat frekuensi tinggi / Penguat RF (RF Amplifier)
(2)
Pencampur (Mixer)
(3)
Osilator lokal (Local Oscillator).
Penguat Frekuensi Radio (Penguat RF)
Penguat frekuensi tinggi, seperti namanya, berguna
untuk menguatkan sinyal frekuensi radio yang diterima oleh antena. Penguat RF
ini harus memiliki karakteristik penguatan yang merata pada seluruh bidang
frekuensi dan memiliki perbedaan penguatan antar kanal yang sekecil mungkin.
Karena rasio S/N (perbandingan sinyal terhadap noise) ditentukan oleh penguat
RF ini, maka penguat RF harus memiliki penguatan (gain) yang cukup
besar, tetapi juga harus tetap menghasilkan distorsi yang kecil jika ternyata
gelombang yang diterima sudah cukup besar, untuk itulah maka ditambahkan
rangkaian kontrol penguatan otomatis (AGC / Automatic Gain Control)yang
diumpan-balik kan pada rangkaian RF ini.
Pencampur (Mixer)
Pencampur (Mixer)
Fungsi mixer adalah mencampur gelombang
radio yang diterima antena yang telah dikuatkan oleh Penguat RF dengan keluaran
osilator lokal sehingga diperoleh signal IF(intermediate frequency) yang
merupakan selisih dari kedua frekuensi yang dicampur tersebut. Frekuensi
pembawa sinyal yang dikeluarkan rangkaian mixer ini adalah dibuat
tetap sebesar 38,9 Mhz yang merupakan frekuensi pembawa gambar yang didalamnya juga
terdapat sinyal singkronisasi dan frekuensi sebesar 33,4 Mhz yang merupakan
frekuensi pembawa suara.
Osilator Lokal (Local Oscillator)
Fungsi osilator lokal adalah
membangkitkan frekuensi yang nantinya dicampur dengan frekuensi yang diterima
antena sehingga didapat frekuensi IF, frekuensi osilator lokal dapat
diubah-ubah sesuai dengan kanal / saluran yang dipilih.Osilator lokal harus
sangat stabil, karena jika osilator lokal mudah tergeser maka gambar dan suara
tidak dapat direproduksi dengan sempurna. Untuk mendapatkan ke-stabilan ini
maka ditambahkan rangkaian kontrol AFT (Automatic Frequency Tuning) atau
AFC (Automatic Frequency Control) yang berguna untuk mendeteksi
penggeseran frekuensi pembawa sinya IF gambar yang kemudian di umpan-balikkan
ke osilator lokal, sehingga osilator lokal di-stabilkan oleh tegangan
umpan-balik tersebut (tegangan AFT / AFC).
4.
MACAM-MACAM TRAFO BERDASARKAN FREKUENSI
a.
TRAFO FREKUENSI RENDAH
Trafo frekuensi rendah merupakan trafo yang
bekerja pada frekuensi audio (20Hz – 20kHz) dan frekuensi diatasnya selama
masih dalam cangkupan frekuensi rendah. Ciri-ciri trafo yang bekerja pada
frekuensi rendah biasanya menggunakan inti besi lunak, terutama untuk range
frekuensi radio.
Gambar 4.a. Trafo Frekuensi Rendah
b.
TRAFO FREKUENSI MENENGAH
Trafo frekuensi menengah disebut
juga dengan trafo IF (Intermediate Frequency). Sesuai dengan namanya trafo
jenis ini berfungsi bekerja pada frekuensi menengah. Untuk kegunaannya, trafo
IF banyak dipakai pada radio-radio penerima AM/FM. Pada trafo IF sudah terdapat
lilitan primer dan sekunder yang diparalel dengan sebuah kapasitor khusus untuk
keperluan frekuensi menengah sehingga menjadi rangkain resonansi L-C.
Frekuensi IF sudah ada
standarisasinya, yang mana untuk keperluan AM (Amplitudo Modulation) frekuensi
menengah yang digunakan adalah 455kHz, sedangkan untuk keperluan FM (Frequency
Modulation) frekuensi menengah yang digunakan adalah 10,7 MHz
Gambar 4.b. Trafo Frekuensi Menengah (Intermediate
Frequency)
c.
TRAFO FREKUENSI TINGGI
Trafo jenis ini bekerja pada
frekuensi tinggi yang banyak dipakai untuk keperluan pembangkitan frekuensi
(osilator), lilitan resonansi, dan flyback pada rangkaian TV tabung. Trafo
frekuensi tinggi digunakan untuk osilator disebut juga dengan spul oscillator.
Lilitan osilator yang lazim digunakan terdapat 2 jenis yaitu Osilator Hartly
dan Osilator Colpitts
Gambar 4.c. Trafo Switching sebagai salah satu Trafo
Frekuensi Tinggi
Jumat, 13 Januari 2017
TUGAS SOFTSKILL (EKONOMI TEKNIK) TEMPLATE PROPOSAL
Proposal Bisnis
Nama Perusahaan : PT. Maju Dong Masa Mundur
Alamat : Jl. H. Jiung
No.18, Kemayoran
Telepon : (021) – 829xxxx
Ringkasan Eksekutif
Kami, PT. Maju Dong Masa Mundur,berkomitmen untuk
menjalankan perusahaan secara professional agar bisa memajukan PT. Maju Dong
Masa Mundur serta menempatkan Perusahan kami pada level yang tentunya lebih
tinggi. Tujuan dari Perusahaan kami yaitu membuat serta mengirim produk dengan tepat
waktu dan bisa menjualnya kepada distributor dengan kesepakatan harga yang telah
disetujui bersama. Target produksi kami satu tahun ke depan adalah membuat 2
buah produk, yaitu: Sebuah Helm Automatic Fullface berbasis SNI, serta Artificial Intellegent (AI) dengan
penerapan pada rumah huni,hotel,dsb. Masing-masing produk akan kami selesaikan
dalam waktu satu tahun 5 bulan.
Tujuan
Dalam membuat serta mengirim produk, kami mempunyai tujuan yang terencana dengan baik, yaitu
tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Tujuan jangka
pendek:
Kami akan membuat helm yang berbasis SNI. Serta Asisten rumah tangga yang berbasis Artificial
Intellegent (AI). Kami akan menjual produk kami kepada pasar
elektronik, kalangan umum dan
instituti pendidikan.
Jangka menengah:
Kami akan membuat produk programming berbasis 3D, yaitu Asisten rumah tangga dalam bentuk program,
dimana kita dapat berbicara,menyapa selayaknya asisten rumah tangga asli. Pangsa pasar kami adalah kalangan umum, instituti
pendidikan, dan penyedia layanan elektronik.
Jangka Panjang:
Kami akan terus berinovasi guna menjawab tantangan zaman.
Misi dan Visi Perusahaan
Visi :
Memajukan
teknologi bangsa dengan
IPTEK.
Misi :
n Membuat produk yang berfungsi,berkulitas dan bertaraf futuristik
n Berusaha menumbuhkan generasi yang memahami IPTEK
n Terus berinofasi guna menjadikan produk dalam negeri
sebagai primadona di negeri sendiri
Sekilas Perusahaan
Maju dong Masa Mundur adalah perusahaan pabrik serta multimedia yang membuat, mengembangkan serta memasarkan produk yang berkualitas serta bertaraf futuristik.
Kepemilikan Perusahaan
Maju Dong Masa Mundur adalah perusahaan pribadi yang dimiliki oleh Rediamethyst Putracrishnanda Daryatno
ST,MT.
Sejarah Singkat Perusahaan
Antmedia adalah perusahaan multimedia
beserta pabrik yang bergerak
dibidang pembuatan software dan hardware. Didirikan pada 31 Mei 2011 oleh Rediamethyst Putracrishnanda Daryatno. Perusahaan ini berlokasi di Jl. H. Jiung No.18,
Kemayoran
Lokasi dan Fasilitas Perusahaan
Antmedia Berlokasi di Jl. H. Jiung No.18, Kemayoran.
Tempat usaha berupa bangunan pribadi dengan tiga lantai dengan ukuran 20x60 meter.
Produk
Maju Dong Masa Mundur mempunyai dua divisi produk, yaitu AI dan AFH. AI adalah divisi yang membuat Program untuk menghasilkan output
Artificial Intellegent yang berfungsi sebagai asisten rumah tangga, sedangkan AFH adalah divisi yang membuat helm
fullface otomatis. Berikut ini
adalah produk yang sedang kami buat dan yang akan segera dibuat.
AI
n Software Program
n Asisten
Rumah Tangga Virtual dengan Benefit membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari
AFH
n Membuat sebuah helm fullface automatic dengan
sistem buka tutup yang otomatis berdasarkan sensor perintah suara.
Karakteristik dan Perbandingan
Kompetitif Produk
Produk kami adalah produk berkualitas yang berbeda dalam
bentuk penyajian dan karakteristiknya. Pada setiap program kami yang bernuansa futuristik tentu akan selalu menggunakan keamanan
tambahan, yang tujuannya adalah menjaga pengguna untuk selalu
merasa aman serta terjaga. Sedangkan
pada produk yang kami jual tentunya berlabel SNI, yang mana bermaksud aman
untuk dipakai. Untuk harga, kami akan
menjualnya dengan harga produk berstandar lainnya yang dijual di pasar. Untuk harga Artificial
Intellegent akan kami jual berkisar dengan harga
kurang lebih 20Juta rupiah
Analisis Pasar
Maraknya produk bajakan berkualitas bagus yang dijual
murah di pasar tentu akan menjadi salah satu kendala dalam pemasaran produk
kami. Namun begitu, kami berkeyakinan bahwa produk kami, Insya Allah masih bisa
laku lantaran kami mempunyai benefit yang tentunya lebih mudah diaplikasikan oleh konsumen.
Analisis Industri
Saat ini kami mengetahui bahwa ada beberapa perusahaan
software lokal yang sudah menjual produknya ke pasar, namun begitu kami tetap
berkeyakinan kalau produk kami, Insya Allah masih bisa laku lantaran adanya
perbedaan karakteristik. Selain itu, kami pun mengetahui bahwa mayoritas
konsumen di negeri ini adalah muslim, yang tentunya menginginkan produk yang
bernuansa Islam dan bernilai ibadah
Peramalan Pasar
Jika kelak tujuan jangka menengah kami sudah tercapai,
Insya Allah kami siap bersaing di pasar Internasional, khususnya guna memenuhi
kebutuhan konsumen luar negeri.
Strategi Pemasaran
Strategi kami adalah strategi samudera biru, yang mana
perusahaan kami akan bekerja sama dengan perusahaan lain guna mencapai tujuan.
Salah satunya adalah bekerja sama dengan beberapa perusahaan sofware lokal
dalam hal promosi dan pemasaran.
Organisasi
Perusahaan kami terdiri dari :
Divisi
Produksi
n
Kepala
Produksi
Bertanggung jawab dalam menghasilkan produk yang
berkualitas
n
Product
designer
n
Programmer
n
Graphic
Designer dan Animator
n
Music dan
Sound FX creator
n
Writer
Divisi
Keuangan dan Manajemen
n
Kepala
keuangan dan manajemen
Bertanggung jawab dalam menyediaan dana produksi dan
operasional
n
Akuntan
n
Administrasi
Divisi
Operasional dan Pemeliharan
n
Kepala
operasional dan pemeliharaan
Bertanggung jawab dalam penyediaan dan memelihara
perlengkapan kerja.
n
Teknisi
n
OB
Divisi
Pemasaran
n
Kepala
pemasaran
Bertanggung jawab dalam penjualan produk dan promosi.
n
Humas
n
Sales
Estimasi Biaya
Biaya Investasi
Perlengkapan
kantor
n 6 buah meja kerja
n 4 buah cabinet
n 1 set kursi tamu
n 3
Dispenser
n 3 buah AC
Perangkat Keras
n 5 buah komputer Berspesifikasi tinggi
n 2 Scanner
n 2 Printer
Biaya Operasional
n Listrik selama setahun
n Telepon selama setahun
n Perlengkapan kantor setahun
n Kemasan 3000 buah
Total biaya Operasional = Rp. 40.000.000
Total Biaya keseluruhan = total biaya investasi + total
biaya operasional
Total Biaya = Biaya Investasi + Biaya Operasional
Rp. 40.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 90.000.000
Pendapatan
3 produk setahun, harga penjualan x 3 target penjualan = Rp. 10.000.000 pertahun
Keuntungan
Keuntungan = Pendapatan - Total Biaya
Revenue Cost Ratio (R/C)
R/C = Pendapatan : Total Biaya
Rp. 18.000.000 : Rp. 90.000.000 = Rp. 2.000.000
R/C sebesar Rp. 2.000.000 menunjukkan bahwa usaha tersebut masih layak dilakukan.
Break Event Point (BEP)
BEP Produksi = Total Biaya: Harga Jual
Rp. 90.000.000 : Rp 40.000.000 = 2 keping
BEP Harga = Total Biaya : Total Produksi
Rp. 40.000.000 : 3 keping = Rp. 13.300.000/keping
Angkat tersebut
menunjukkan bahwa investasi akan berada dalam titik impas jika dalam setahun
mampu menjual produk sebanyak 3 keping/tahun dan tingkat harga jual Rp.
13.300.000/keping
Langganan:
Postingan (Atom)































